Cintaku Terjerat Sahabatku


Oleh: Nisa’ Maulan Shofa

Aku tengah berada di kelas. Sendirian. Bermain game di ponsel. Hanya itu yang bisa mengusir jenuhku.
Saat ini guru-guru sedang rapat mingguan. Jadi, tidak ada pelajaran selama dua jam pelaran. Dan semua murid pergi ke kantin. Sedangkan aku masih terlalu kenyang untuk pergi ke kantin. Jadinya gini deh, sendirian di kelas.
“Eh, dapet salam tuh dari Kak Fahry!” tiba-tiba Cintya, teman sebangkuku dating lalu duduk disampingku.
“Lo mau bunuh gue ya? Kaget dodol! Untung gue nggak jantungan. Eh, tapi bener salamnya?” tanyaku sumringah.
“Ketipu lo! Hahaha,” Cintya puas tertawa. Kebiasaan ni anak, udah ngagetin nipu pula. Bikin dongkol.
“Kurang aja banget sih lo! Awas lo ntar!” aku ngancem dia.
“Biarin, wekk!” dia menjulurkan lidahnya lalu berlari keluar.
**
Seneng banget deh. Semalem aku smsan sama Mas Fahry. Sepeprti yang udah kukira, dia orangnya asyik. Sampai-sampai semalem nggak kerasa smsan sampai jam dua pagi.
Bak ketiban durian runtuh, semalem udah smsan, tadi pagi baru sampai sekolah udah berpapasan sama Kak Fahry, senyum ke aku pula. Dan nanti istirahat pertama dia mau ke kelasku. Katanya mau ketemu aku. Wah wah wah, seneng banget rasanya. Jadi nggak sabar nunggu jam 09:45.
Aku ketemu Mas Fahry itu saat dia main ke rumah kakak sepupuku setahun silam. Kebetulan aku juga sedang main disana. Dan dari pandangan pertama aku sudah suka ama dia. Waktu itu juga aku ingin masuk ke SMU ini. Hehe, waktu itu aku masih kelas tiga SMP.
**
Bel sitirahat pertama sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu. Tandanya lima menit lagi waktu istirahat akan usai. Tapi, kenapa Mas Fahry nggak dating-datang sih? Jadi ke kelasku nggak?
Aku terus gelisah menunggu kedatangan Mas Fahry. Namun, sampai usainya waktu istirahat dia tak kunjung ke kelasku. Ih gimana sih? Lupa atau gimana? Udah nggak bawa handphone lagi. Nggak bisa nanya ke dia kan.
Ternyata, teori semua orang yang katanya ketiban durian itu seneng salah besar. Sakiy tauk ketiban durian itu. Kayak yang aku alami sekarang. Sebel!
**
Malam ini Mas Fahry sms lagi. Ah males deh jadinya. Buat janji sendiri tapi nggak ditepatin. Nggak ngasih penjelasan lagi. Kecewa berat nih aku. Ku kira dia orangnya asyik, tapi ternyata? Nyebelin!
Gara-gara dia maghku kambuh. Karena istirahat nggak ke kantin, padahal paginya nggak sarapan. Jadi kena omelan Mama deh.
Mau apa coba sekarang dia sms? Minta maaf? Kalau mau minta maaf to the point aja deh. Pake sms basa-basi segala lagi. Malemlah, Assalamu’alaikumlah, lagi apalah. Maunya apa sih?
“Chin, sebel banget aku sama Fahry. Buat janji tp nggak ditepatin. Maunya apa coba?” dan ku kirim pesan singkat ini ke nomor Chintya.
Beberapa menit kemudian handphoneku bergetar. Chintya membalas smsku. “Sabar. Dia mgkin cma main2 sma lo. Makanya kalo suka jgn segitunnya, apa lgi sma kakak kelas.”
Bener juga kata Chintya. Mungkin Mas Fahry Cuma mau main-main sama aku. Apalagi aku Cuma adek kelasnya. Nggak penting banget buat dia. Apa coba yang dibanggain dari adek kelas. Nggak ada kan? Apalagi aku kan yang ngejar-ngejar dia. Ah, kenapa aku dulu minta nomornya ke kakak sepupuku itu sih? Nyesel banget ih.
**
Sejak ku terima sms dari Chintya itu aku jadi sadar. Benar juga katanya, mungkin Mas Fahry Cuma mainin aku. Dan sejak saat itu pula, aku males dengar nama Fahry lagi.
Sudah seminggu sms Mas Fahry aku abaikan. Aku tidak mau semakin terluka. Apalagi kalau bener jika Mas Fahry Cuma mainin aku aja. Ah, nyesel kenal sama dia.
Aku tengah di perpus saat ini. Nyari novel yang bagus untuk dipinjam. Kebetulan guru-guru sedang rapat, jadinya punya waktu banyak untuk baca novel di perpus.
“Kamu kenapa nggak pernah bales sms dari Mas?” tiba-tiba seseorang duduk disampingku.
“Mas Fahry?” aku gugup setengah hidup, karena ternyata Mas Fahrylah yang duduk disebelahku.
“Mas punya salah ke kamu?”
“Nggak kok,” aku bingung mau jawab apa.
“Terus? Kenapa kamu nyuekin Mas? Salam Mas juga ditolak terus. Kamu juga nggak mau nemuin Mas waktu itu. Kenapa? Marah sama Mas?”
“Salam dari mana Mas? Emang waktu itu Mas ke kelasku? Orang aku nunggu sampai nggak ke kantin, tapi Masnya nggak datang kok.” Aku bingung.
“Mas selalu nitip salam buat kamu ke Chintya. Tapi kamu nggak pernah mau nerima katanya. Waktu Mas ke kelasmu emang kamu di kelas. Mas mau masuk, tapi nggak enak sama teman-temanmu. Jadi Mas nyuruh Chintya buat manggil kamu. Tapi katanya kamu nggak mau nemuin Mas,”
Aku sangat terkejut dengan ucapan Mas Fahry. Kenapa Chintya nglakuin ini ke aku? Apa salahku ke dia?
“Bentar ya Mas,” aku berlari keluar menuju kelasku untuk mendapat penjelasan dari Chintya atas ucapan Mas Fahry barusan. Namun, ternyata Chintya telah berada di balik pintu perpus.
“Chin kenapa…” ucapanku terpotong.
“Gue tahu lo mau ngomong apa. Gue nglakuin ini karena gue suka sama Kak Fahry. Gue iri sama lo! Kenapa dia lebih milih lo?! Gue iri! Setiap cowok yang gue suka pasti lebih milih lo!” ujarnya dengan nada tinggi. Untuk saja waktu itu perpus nggak terlalu banyak orang. Mungkin kebanyakan sedang berada di kantin. Jadi nggak ngundang keramaian disini.
“Jadi bener?” aku bertanya khawatir.
“Iya! Gue benci sama lo!” Chintya berlari. Aku hanya bisa diam di tempatku berdiri saat ini. Bingung mau nglakuin apa.
Minggu, 18 Desember 2011.

Komentar

  1. blogwalking ya mbak.. hehe
    ternyata penulis ya.. keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mas, udah berkenan baca ocehanku :)
      Waaaah,,, aku belum pantas disebut penulis, Mas. Tapi aku suka banget nulis ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer