The Most Important Thing


Oleh: Nisa’ Maulan Shofa

Ih sebel! Kenapa sih gue punya nyokap kayak dia? Sukanya ngatur-ngatur. Cerewet pula. Gue punya aktifitas juga kali. Gue bukan anak keci lagi yang harus diatur-atur. Gue butuh kebebasan. Gue nggak mau diatur-atur kayak gini.
Gue emang terlahir dari keluarga broken home. Keluarga tidak sempurna. Bokap gue pergi entah kemana sama selingkuhannya. Gue benci sama dia. Dia tak lebih dari sampah menurutku. Tak berguna sama sekali.
Sekarang, tinggal gue dan nyokap gue serta kedua adik kembar gue di rumah. Terkadang, gue merasa kasihan sama nyokap gue. Dia sangat lelah mengurus kami bertiga. Beliau harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami.
Tapi, terkadang gue juga benci sama dia. Dia selalu ngatur segala tindak-tanduk gue. Ini nggak boleh. Itu nggak boleh. Gue bukan anak kecil lagi!
**
Gue tengah bermain di rumah temen sekarang. Ehm, pamitnya sih mau ngerjain tugas, tapi emang ngerjain tugas kok. Suwer deh! Cuman, banyakan pacarannya daripada belajarnya. Ah, yang penting belajar juga kan!
Ponsel gue bergetar pendek tanda ada sms masuk. Siapa sih? Ganggu aja.
Gue membiarkan sms itu. Tapi semakin dibiarkan malah semakin sering ponsel gue dimasuki sms. Siapa sih sebenarnya? Ganggu banget sumpah!
“Rangga, cepet pulang. Jaga adikmu, mama mau pergi.” Ternyata Mama yang sms.
Nah ini nih, ganggu banget. Emang adik-adik gue itu nggak bisa jaga diri mereka sendiri. Merekar sudah kelas tiga SD. Sudah besar. Gue kan juga punya aktifitas sendiri. Nyuruh tetangga aja kan bisa sih.
“Kenappa Yang?” Tanya Irene, pacar gue.
“Ini nih nyokap. Nyuruh pulang. Resek banget deh.” Ujar gue sambil memanyunkan bibir.
“Bilang aja sih lagi sibuk belajar,” tukas Bagus.
“Lo tahu kan nyokap gue gimana? Pasti nggak percayalah.” Gue menyangkal usulan Bagus.
“Ya udah. Nggak usah bales. Nggak usah pulang. Gampang kan?” usul Irene. Dan gue menurutinya.
**
“Kenapa kamu baru pulang?!” bentak Mama ketika gue baru diambang pintu.
“Belajar Ma,” ujar gue santai.
“Belajar apa kamu? Sejak pagi sampai larut malam gini! Belajar pacaran?!”
“Mama kenapa sih? Rangga nggak belajar dimarahi, belajar juga dimarahi! Mau Mama apa?!” gue meninggikan intonasi gue.
“Berani ya bentak Mama?”
“Kenapa tidak? Rangga punya aktifiitas Ma. Rangga bukan anak kecil lagi. Rangga nggak mau di atur-atur lagi Ma. Rangga sudah gedhe, sudah 18 tahun. Malu sama temen-temen Ma.”
“Kalau begitu, keluar sana! Kamu sudah gedhe, bisa cari duit sendiri! Bisa beli rumah sendiri! Nggak usah tinggal disini lagi! Mama hanya punya anak yang nurut sama Mama saja. Tidak kayak kamu!” Mama mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah gue.
Gue nggak nyangka Mama bisa ngomong gini ke gue. Baiklah kalau gitu. Gue emang nggak harus tinggal disini. Mama memang bukan sosok nyokap yang baik lagi. Gue akan pergi dari sini biar Mama puas.
“Baik kalau gitu!” gue berlalu keluar meninggalkan Mama sendiri. Melajukan motor dengan kencang. Nggak tahu mau kemana. Yang penting jauh dari rumah. Gue nggak betah lagi di rumah.
**
Seminggu sudah gue ninggalin rumah. Berlalu lalang dijalan. Dan tidur hanya beralaskan jaket yang ku pakai di mushola. Dan alhasil, handphone kesayangan gue, gue jual untuk memenuhi segala kebutuhan gue. Gue juga nggak masuk sekolah seminggu ini. Dan parahnya lagi, tidak ada satupun dari temen-temen gue yang bersedia nolong gue. Irene juga mutusin gue tanpa sebab.
Gue baru sadar, ternyata hanya rumah tempat gue berlindung. Semua temen-temen gue nggak ada yang bener. Mereka hanya mau saat mereka butuh saja. Gue benci mereka!
Dan gue juga baru menyadari, ternyata hanya Mama yang bisa nerima gue apa adanya. Dan gue telah nyia-nyiain kasih sayang tulus itu. Gue malu mau pulang ke rumah. Gue emang bodoh!
**
Buru-buru gue melajukan motor menuju rumah. Semalem gue mimpi buruk tentang Mama. Dimimpi gue, Mama kecelakaan. Gue sangat takut. Gue nggak mau itu terjadi. Gue sayang sama Mama.
Gue nggak peduli apa yang akan Mama katakana nanti. Gue siap dipukul. Gue siap dimarahi Mama sampai kuping gue panas nerima omelas dari Mama. Asal Mama baik-baik saja gue seneng.
Setengah jam kemudian gue sampai di rumah. Dengan ragu gue membuka pintu. Tidak ada orang di rumah. Dimana Mama dan kedua adik gue? Kemana mereka? Kenapa pintu dibiarkan tidak terkunci sementara mereka tidak di rumah? Ada apa sebenarnya?
Tiba-tiba gue mendengar langkah kaku memasuki rumah. Buru-buru gue keluar dan melihat siapa yang datang. Ternyata, itu Mama dan kedua adik gue.
“Rangga?” ujar Mama lalu memelukku sangat hangat. Gue merindukan pelukan ini. Dan, gue lega Mama tak apa-apa.
“Untunglah Mas sudah pulang,” ujar Sisil, si bungsu.
“Mas tahu nggak? Mama mikirin Mas terus. Mama sedih selama Mas pergi. Mama bahkan tidak mau makan.” Jelas Sila.
Gue menatap Mama. Matanya sembab. Lingkaran hitam terlihat sangat jelas mengelilingi mata indahnya.
“Maafin Rangga Mma. Ranggay emang salah.” Gue berlutut di depan Mama.
“Bangun Nak. Mama juga minta maaf. Tidak seharusnya Mama membentakmu malam itu.” Ujarnya dengan amat lembut.
“Love you Mom. Rangga sadar, Mama memang yang terbaik. You’re only the most important thing for Rangga.” Gue memeluk Mama dengan sangat erat. Dan mat ague mulai basah.
Kamis, 22 Desember 2011.

Komentar

Postingan Populer