Ketika Seorang Penulis Patah Hati

Aku mengenalmu tak sengaja. Hanya lewat tatap mata ketika kehadiranmu lebih menarik dibanding hal lain.


Aku mengenalmu dua tahun lalu. Ketika aku sedang duduk sendirian di sebuah sudut kafe. Ketika aku kehabisan ide untuk meramu kata menjadi sebuah kata yang menggairahkan untuk dibaca. Ketika aku sedang mengerutkan kening karena rasanya otakku macet dan tidak mampu berpikir.



Aku melihat senyumanmu yang menyapa barista di balik meja kerjanya. Lalu kamu berteriak meminta latte kesukaanmu tanpa mendekat ke meja pemesanan. Kamu langsung duduk setelah menerima acungan jempol dari barista cantik yang sepertinya sudah mengenalmu dengan sangat baik. Kamu duduk dengan jarak dua meja dariku. Kamu masih tetap tersenyum seraya mengeluarkan sebuah buku tebal dari ransel hitammu yang tampak sudah lusuh. Kamu khiadmat membaca tiap rangkai kata di buku itu.

Tahukah kamu apa yang kulakulan saat itu? Aku hanya duduk diam memandangimu. Tak lagi melanjutkan cerita di lembar kerja laptopku. Aku terlalu terpesona dan terlalu merasa kecewa jika aku mengalihkan pandangan darimu. Takut ketika aku kembali sibuk dengan laptopku, lalu aku mengalihkan pandangan darimu, aku tidak akan menemukanmu lagi. Takut kamu pergi tanpa sepengetahuanku. Meskipun nyatanya, kamu selalu di sana hingga dua jam lamanya hanya untuk menghabiskan beberapa lembar bacaan dan hanya menikmati secangkir latte.

Lalu suatu ketika, kamu mendapatiku yang menatap ke arahmu dengan lekat. Kaget, aku langsung mengalihkan pandangan. Berpura-pura sibuk dengan laptopku.

Kamu bagai keping yang menyatu di bagianku yang hilang.


Tak kusangka, kamu berjalan mendekat. Berdiri di depan meja yang kutempati dan bertanya apakah kau boleh duduk di sana. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Terlalu malu untuk berkata meskipun hanya sekadar 'ya'. Karena aku tahu, ketika gugup, suaraku akan bergetar dan terdengar aneh.

Bagaimana kita bisa saling menyatu, itu membuatku heran. Padahal, dulu kita orang asing tak saling kenal.


Hari-hari berikutnya, kita menghabiskan waktu di kafe itu bersama. Kita tak lagi duduk terpisah dengan jarak dua meja. Kita duduk berhadapan. Dengan secangkir latte untukmu dan sebuah buku tebal milikmu juga secangkir cappuccino dan laptop di depanku menjadi penyekat kita. Kita berbagai cerita yang akhirnya kutuangkan ke dalam ramuan imajiku saat malamnya.

Awal aku bercerita tentangku yang suka menulis, kamu langsung memuji. Berkata bahwa menjadi penulis itu sangat keren. Karena ternyata, kamu dulu juga ingin menjadi penulis. Namun, kamu dengan tegas memutuskan jika kamu lebih nyaman menjadi pembaca karena setiap kamu memulai menulis, kamu akan meninggalkan tulisan yang kamu tulis. Beralih ke ide lainnya yang menurutmu lebih segar yang ternyata kembali beku karena kamu terlalu menggebu saat menulisnya sehingga kembali hanya teronggok setengah jadi.

Aku hanya tertawa mendengar penuturanmu. Bukannya aku mencemooh, tapi karena kamu bercerita dengan ekspresi penuh. Mengaduh, menjerit kecil, terkekeh pelan, tergelak keras hingga membuat pengunjung lain menyorot kita, dan menatap dengan sorot yang mendebarkan jantungku.

Anehnya, kamu selalu mampu membuatku tertawa dan mampu berlama-lama memperhatikanmu.


Lalu di hari selanjutnya kamu mampu membuat dadaku menghangat hanya karena kamu menatapku dengan lekat. Kamu bahkan pernah tak sengaja menyentuh jemarinku saat kamu meminta untuk membaca tulisanku. Saat itu kamu dengan lancangnya merebut laptop di depanku. Membuat tanganku yang sedang menangkup di atas keyboard tak sengaja bersentuhan dengan jemarimu. Tahu apa akibatnya dari itu? Tubuhku menghangat di sekujurnya, merasa seperti ada aliran listrik halus dan membuat darahku berdesir aneh, juga merasakan seperti ada kupu-kupu yang jumlahnya puluhan menggelitiki perutku.

Semua perasaan nyaman itu tumbuh dengan subur setiap harinya hanya karena kita berbagi cerita. Hingga kemudian aku mulai bertanya sebutan apa yang pantas kita sematkan di antara kita? Kita begitu dekat sehingga barista yang kukira dulu sangat mengenalmu mengira kita ada apa-apa. Kamu hanya tersenyum saat digoda barista itu. Sedangkan wajahku sudah memerah seperti buah palm. Memalukan sekali aku.

Aku hanya berdoa, jika memang kita menyatu, kita benar-benar saling memiliki. Hingga tak ada sekat sedikit pun di antara kita.


Namun, di suatu sore, kamu datang terlambat. Kamu masih menyapaku dengan sangat ramah. Dengan senyum lebar yang semakin membuatmu menawan. Akan tetapi, kamu agak berbeda. Lebih terlihat ceria dibanding biasanya.

Kupikir, cerianya kamu dibanding biasanya itu pertanda baik. Mungkin kerjamu lancar hari ini. Bacaanmu sudah selesai. Atau bahkan kamu sudah mendapatkan buku klasik cetakan pertama yang kamu incar dari dulu.

Ternyata, tidak!

Keceriaanmu bersumber dari penelepon itu. Penelepon yang mampu membuat senyummu mengembang dua kali lipat. Penelepon yang mampu membuat sorot matamu lebih berbinar dibanding sebelumnya. Lalu di akhir panggilanmu dan si penelepon, kamu berujar kalimat yang membuat dadaku bergemuruh. Tak ada lagi kupu-kupu menggelitik perutku. Yang ada hanya detak jantung yang menggema tidak nyaman.

"Love you, Bee. Iya, aku akan menjemputmu."

Setelah berujar seperti itu, kamu beranjak pergi. Mengatakan kepadaku bahwa kamu ada keperluan. Kamu bahkan belum memesan Latte dengan berteriak seperti biasa kepada barista. Kamu bahkan baru beberapa menit duduk di depanku. Kamu juga belum mengeluarkan bacaanmu. Kamu langsung pergi dengan tergesa dan senyum mengembang.

Kepalaku tiba-tiba berdenyut. Laptop kututup dengan entakan keras. Aku menyandarkan tubuh ke punggung kursi. Menatap pintu yang baru saja kamu lewati.

Inikah rasanya patah hati? Ketika seseorang berhasil aku semayamkan di sudut hati tapi kemudian pergi dengan tergesa karena seseorang lain yang menurutnya lebih berarti?
Inikah rasanya patah hati? Ketika dia yang selalu kaupandang lebih memilih mendekap orang lain dan tak mengacuhkanmu sama sekali?

Dan, inikah yang dirasakan semua tokoh di kisah yang kutulis ketika aku mematahkan hati mereka? Ketika aku lebih menjodohkan seseorang yang mereka sukai lebih memilih orang lain? Ketika aku menggambarkan mereka berlinangan air mata karena seseorang yang mereka cintai tidak mau memandang mereka?

Sakit sekali...

Beginikah potret seorang yang patah hati? Menyedihkan sekali.

Komentar

  1. Yahh.., nyatanya begitu... baru juga menikmati rasanya bahagia mencinta. Eh, bahagia ingin mencinta, ternyata nggak jadi.. :(
    Pukpuk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Vindy udah mampiiirrr :D
      Ciyeeee Mbak Penulis ini nggak lagi patah hati juga, kan? :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer