Dalam Senja yang Meruntuhkan Kita

img src: google

Semburat warna merah dan jingga memenuhi langit saat kamu mengutarakan betapa kejamnya dia memperlakukanmu selama ini. Lalu kamu memintaku membayangkan segala kisahmu bersama dia. Tentang 3 tahun jalinan kasihmu dan dia yang penuh kebahagiaan. Tentang senyum manisnya yang selalu berhasil membuat jantungmu mengentak lebih kencang. Dan tentang segalanya yang secara ajaib mampu kubayangkan seolah aku ikut serta dalam kisah itu.
Kerang kecil kamu lemparkan jauh ke depan di antara ombak yang menggulung. Angin semilir menyibakkan rambutmu yang mulai memanjang hingga menutupi telinga. Bibirmu berucap,
tapi begitu lirih bahkan nyaris seperti gumaman. Namun, entah kenapa, telingaku selalu menajam setiap bersamamu. Katamu, “Tapi, kebahagiaan itu hanya berarti untukku… dan omong-kosong baginya.”
Desahan napasmu terdengar kasar diiringi butiran-butiran air matamu mengalir membasahi rahangmu yang kokoh.
Aku menghela napas. Sesak rasanya dada ini. Selalu saja aku terganggu saat melihat lelaki menangis. Apalagi lelaki model sepertimu. Dengan sorot mata elang, bisep-trisep kokoh, dan dada bidang, segalanya terasa tak serasi untuk dikombinasikan dengan gerakan menyusut hidung dan pipi basah karena air mata. Apakah di benakku sudah terpatri bahwa lelaki tak dikodratkan untuk menangis?
img src: google
Aku mungkin lemah karena kebodohanku sehingga aku tak bisa mengikuti kemauanku sendiri. Inginku memelukmu dan berkata, “Semua akan baik-baik saja, selama kita terus bersama-sama. Tak peduli betapa berbisanya wanitamu terdahulu, betapa kamu hancur oleh kelakuan wanita tercintamu itu, aku akan tetap di sini untuk membuatmu pulih. Untuk membuktikan bahwa memang kamu pantas untuk dicintai. Oleh semua orang… terutama olehku.” Akan tetapi, yang terjadi adalah aku mendapati diriku berdiri. Pamit membeli minuman. Dan sekarang, hanya berdiri bodoh di balik pepohonan. Menatapmu tanpa berkata apa pun, meski dalam hati.
Langit makin menggelap. Matahari bahkan sudah menyerah untuk menemani kita. Camar beterbangan di atas permukan laut yang penuh ombak bergulung-gulung. Sedangkan aku tetap di sini. Menatapmu, lelaki yang tengah patah hati. Lelaki yang sedang duduk di antara embusan angin pantai dengan kepala tertunduk, tersembunyi di antara kedua lutut yang ditekut. Kenapa hatiku nyeri melihatmu dalam keadaan seperti itu?
Dalam hening, aku diam-diam berharap. Semoga orang-orang sepertimu, yang begitu bodoh mendamba kebahagiaan dari orang lain yang tak mentapmu sama sekali, lekas tersadar. Bahwa di sana, di balik sosok wanitamu yang berkhianat itu, ada wanita sepertiku. Wanita yang bersedia mematahkan hatinya yang raput menjadi keping-keping tak bernilai hanya demi melihatmu bahagia. ***


GK2 208, 17 Februari 2016

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer