Rabu, 23 November 2016

Ilana Tan, Sastra Populer, dan Respons Publik terhadap Bahasa Baku

Suksesnya novel Karmila karya Marga T. dan Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar membuat istilah “sastra populer” naik ke permukaan pada tahun 70-an. Namun, ternyata Jacob Sumardjo mengatakan bahwa kesusastraan populer telah muncul sejak tahun 30-an seiring Balai Pustaka populer sebagai penerbit besutan kolonial.

doc. istimewa

Hadirnya istilah sastra populer tentu sebagai perbandingan dengan istilah sastra serius. Seperti namanya, sastra populer belakangan ini begitu populer di toko buku bahkan menjadi bahan bacaan yang marah di kalangan remaja. Namun, hadirnya sastra populer tidak menjadikan dunia literasi di Indonesia kemudian membaik atau setidaknya dipandang baik. Pasalnya, banyak pemerhati sastra menganggap bahwa sastra populer tidak memiliki bobot untuk dijadikan bahan bacaan, terlebih bahasa yang disajikan di dalamnya seringkali melenceng dari bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan tentu selalu menjadi rujukan untuk memperbaiki kualitas berbahasa Indonesia. Pantas saja memang jika kemudian banyak novel dari sastra populer yang menggunaan bahasa gaul tanpa memperhatikan keseriusan dalam bahasanya membuat banyak pemerhati sastra bahkan kritikus meraung dan mengecam sastra populer.Ya, hal tersebut memang satu dari berbagai hal (seperti isi yang disajikan, nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya, dll.) yang membuat sastra populer dikecam bahkan dianggap sebagai racun dunia sastra Indonesia.
Namun, perihal tidak diterimanya kehadiran sastra populer di kalangan kritikus sastra, tidak menjadikan sastra populer kemudian tenggelam dan menghilang sama sekali. Sekarang ini, kehadiran sastra populer justru menjadi ladang bagi berbagai penerbit untuk meraup keuntungan karena sastra populer justru menjadi novel yang paling digemari dan selalu menempati rak-rak best seller. Penerbit komersial tentu memandang ini sebagai anugrah sehingga sastra populer semakin hidup karena publikasinya yang tinggi.
Penerbit DAR! Mizan, Bentang Bustaka yang kemudian memiliki lini Bentang Belia, Media Pressindo, Gagasmedia, Diva Press, bahkan penerbit besar seperti Gramedia juga berlomba menambah novel populer ke dalam rak-rak toko buku. Lalu banyak bermunculan nama-nama penulis yang kemudian populer karena rajin menerbitkan novel sastra populernya. Alia Zalea, Windry Ramadhina, Winna Efendi, Ika Natassa, Asma Nadia, Dwitasari, Orizuka, Ilana Tan, dll.
Dari nama-nama tersebut, yang saya soroti adalah Ilana Tan. Apa pasal? Meskipun kemudian dari sekian banyak nama penulis novel populer hanya nama pena, tetapi berbeda hal dengan Ilana Tan. Selain namanya memang bukan nama asli, tetapi dia sama sekali tidak memberikan data diri di setiap novel yang ia keluarkan. Sosoknya dipertanyakan sejak tetralogi musimnya kemudian dinobatkan oleh Gramedia sebagai novel dengan penjualan mega best seller.

Cover baru novel Winter In Tokyo
karya Ilana Tan
| doc. istimewa
Ilana Tan pertama kali mengeluarkan novel pada tahun 2006, yaitu Summer In Seoul. Uniknya, naskah awal novel tersebut adalah naskah yang ia kirim untuk lomba tetapi ditolak lalu ia revisi dan dikirimkan ke Gramedia dan justru menjadi begitu populer sehingga menjadi novel tetralogi: Autumn In Paris, Winter In Tokyo, dan Spring In London dengan tokoh yang saling berkaitan tetapi berbeda isi cerita. Hingga sekarang, ia telah menelurkan 6 novel solo dan 1 kumpulan cerpen bersama. Seperti halnya sastra populer pada umumnya, novel-novel karya Ilana Tan hanya membicarakan kehidupan cinta. Namun, yang berbeda adalah penggunaan bahasa baku pada setiap tulisannya tersebut. Bahkan, pada satu novelnya yaitu Winter In Tokyo yang diadaptasi ke dalam film, tetap mempertahankan bahasa baku.
Lantas, bagaimana respons pembaca dan penontonnya?
Seperti yang sudah distrereotipkan, sastra populer merupakan sastra remeh yang tidak menyajikan isi yang berbobot bagi pembacanya karena hanya berisi perihal cinta. Pada Ilana Tan pun demikian. Banyak yang tidak menyoroti akan kebakuan bahasa yang digunakan pada novel Ilana Tan. Beberapa ada yang mempertanyakan apakah mungkin novel-novel Ilana Tan disadur dari novel asing yang diterjemahkan. Prasangka demikian dikarenakan misteriusnya sosok Ilana Tan dan bahasa yang dipakai Ilana Tan. Tidak ada yang memandang pemakaian bahasa baku dalam novel-novelnya merupakan hal yang bagus untuk dunia sastra populer yang sering diremehkan itu.

Official poster film Winter In Tokyo
adaptasi novel karya Ilana Tan
| doc. istimewa
Hingga kemudian, film Winter In Tokyo disoroti karena penggunaan dialog bakunya. Ada beberapa yang menyayangkan karena tokoh-tokoh di dalam film terasa kaku dengan bahasanya. Tetapi banyak pula yang setuju dan mendukung bahwa perlu perubahan dalam penataan bahasa Indonesia dalam perfilman untuk mengajarkan kepada penikmat film bahwa bahasa baku Indonesia perlu “dilestarikan”. Titien Wattimena selaku penulis skenario dan Fajar Bustomi selaku sutradara film mengatakan penggunaan bahasa baku memang sudah dipertimbangkan dengan baik. Pertimbangan tersebut adalah karena seluruh tokoh di novel Winter In Tokyo merupakan orang asing sehingga tidak akan cocok jika bahasanya bukan bahasa Indonesia baku. Bahkan, Hetih Rusli, editor Gramedia, mengatakan bahwa bahasa baku bukanlah bahasa kaku melainkan tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan dan kualitas yang sesuai standar dalam bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda alenia ketiga. | doc. istimemewa


DAFTAR PUSTAKA

Arief, Yovantra. 2014. “Kritik Sastra dan Sastra Populer”. Diakses dari http://indoprogress.com/2014/06/kritik-sastra-dan-sastra-populer/ pada 22 November 2016.
Natassa, Ika dkk. 2013. Autumn Once More. Jakarta: Gramedia.
Kusmarwanti.  2005.  “Teenlit  dan  Budaya  Menulis  di  Kalangan  Remaja  dalam Menuju  Budaya  Menulis  Suatu  Bunga  Rampai”.  (Pangesti  Wiedarti,  Ed.). Tiara Wacana.
Meodia, Arindra. 2016. “Winter In Tokyo, Sebuah Film Romantis”. Diakses dari http://www.antaranews.com/berita/576331/winter-in-tokyo-sebuah-film-romantis pada 22 November 2016.
Ridwan, Iwan. 2016. “Sastra Populer Bukan Sastra Pinggiran Indonesia”. Diakses dari http://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/?p=1250 pada 22 November 2016.
Rusli, Hetih. 2016. “Kenapa Harus Takut Berbahasa Indonesia?”. Diakses dari https://www.facebook.com/notes/hetih-rusli/kenapa-harus-takut-berbahasa-indonesia/10154422654881018 pada 22 November 2016.
Sumardjo, Jacob. 1982. “Sastera Populer dan Pengajaran Sastera” dalam Basis edisi XXXI no. 5 Mei.
.“Ini Alasan Kenapa Film Winter In Tokyo Gunakan Bahasa Baku. Diakses dari http://sumsel.tribunnews.com/2016/08/03/ini-alasan-mengapa-film-winter-in-tokyo-gunakan-bahasa-indonesia-baku pada 22 November 2016.


2 komentar:

  1. Baru tahu lo aku kalau novel itu nggak lolos lomba. Nyesel tuh pasti yang pernah nggak ngelolosin, secara mega bestseller. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk I think so, Mas :D Megabestseller kan ya hahahaha

      Hapus